.
Berita Terkini :

Pendidikan Dalam Kacamata Islam

Rabu, 12 September 2012


      “Ternyata bukan kita didunia ini saja yang bingung, bahkan malaikat pun bingung bagaimana cara mencegah tangan-tangan kotor bergelayutan dimuka bumi ini”. Tidakkah engkau melihat bahwa ada “sekelompok” orang yang bekerja disektor pengajaran? Dia telah melecehkan profesi yang mulia ini ketika dia menjadikannya sarana untuk mengeruk keuntungan materi. Sesungguhnya profesi mengajar jauh lebih tinggi dan mulia dari sekedar profesi resmi atau sumber penghidupan. Ia adalah pekerja mencetak generasi dan membangun umat. Memang hak setiap orang untuk mencari kehidupan yang layak dan mendapatkan sumber terhormat bagi rizkinya. Akan tetapi ini potret lain dari potret sebelumnya dimana pemiliknya melecehkan pengajaran. Ia tidak memilih profesi ini kecuali karena materi yang mengalir. Ambisi utama dan perhitungan pentingnya adalah untung rugi materi. Demikian pula dalam hal dorongan dan rintangan. Apakah orang yang pandangan dan ambisinya seperti ini bisa memikul amanat? Apakah orang macam begini bisa diberi amanat untuk membimbing generasi dan menuntun anak-anak muda?
            Guru yang menyalahkan zamannya, mengeluhkan nasibnya, tidak mengambil hak liburnya, maka para murid membuatnya beruban dan para orang tua melengkapi ketidak berdayaan anak-anak mereka. Guru bagi teman kita ini adalah orang yang bernasip paling buruk. Rekan-rekannya, sebagian dari mereka telah meraih kedudukan tinggi dan yang paling buruk nasibnya adalah yang bisa meminta izin kapanpun dia mau, hadir kapanpun dia mau, berinteraksi dengan kertas-kertas bisu, bukan dengan jiwa-jiwa yang beragam. Adapun dia hidup diantara kebisingan anak muda, teriakan anak-anak kecil, sesudah itu dia kembali ke pangkuan buku-buku tulis.
            Ini potret lain, meski berbeda dengan potret sebelumnya, dimana ia pesimis pada saat temannya optimis. Dia melihat dengan mata kerugian ketika temannya melihat dengan mata keberuntungan. Meski begitu dia tetap tidak mengenal kemuliaan mengajar, tidak berkompeten untuk mengarahkan. Hasil pendidikan seperti apa yang bisa diharapkan dari mereka?
            Melihat putra putri kaum muslim berenang di air kerusakan, terjerat jaring kemaksiatan, tetapi tidak ada sedikit pun dari dirinya yang tergerak atau semangatnya yang terpicu. Ini bukan urusannya, karena urusannya hanya mengajar, atau menerangkan komposisi sesuatu dan teori-teorinya atau membuka rumus-rumus. Bahkan dia bisa saja mengajar ilmu-ilmu agama dan pendidikan islam. Meski demikian, realita para siswa tidak penting baginya sedikitpun.
            Saya tidak mengerti pertimbangan apakah yang menguasai orang-orang seperti ini? Saya tidak mengetahui, mesti lebih heran dengan yang mana, realita anak-anak muda ataukah lemahnya pengajaran dan tidak aktifnya guru model ini?
            Guru ini memikul beban mengajar karena terpaksa, bukan karena pilihan sukarela. Dia tidak mendapatkan pekerjaan lain selainnya, atau karena ia ingin menetap didaerahnya. Inilah satu-satunya pilihan untuknya. Kondisinya seperti kata pepatah, ‘tidak ada rotan akarpun jadi’. Benar, termasuk haknya untuk memilih lahan pekerjaan. Akan tetapi orang seperti ini bisa jadi tidak memahami misi pengajaran dan kemuliaan pendidikan.
            Kita tidak ingin guru yang membuang dunia di belakang punggungnya, mentalaknya tiga kali dan tidak peduli kepadanya sama sekali, atau guru yang tidak pernah pisah dengan mihrab-nya atau guru yang tidak ada sesuatu pun –besar atau kecil- yang lepas darinya. Ini adalah potret yang tinggi, akan tetapi tidak untuk semua orang.
            Kita ingin seorang guru yang selalu optimis dalam meraih –sama dengan yang lain- sumber rezekinya. Kita berharap guru bukan hanya bisa mengajar, tetapi bisa mendidik anak-anak. Dia berpandangan bahwa dia pun berhak –sama dengan yang lain- menikmati keistimewaan-keistimewaan administrasi dan profesi. Akan tetapi semua keinginannya itu tidak berbalik menjadi tujuan pertama dan utama, satu-satunya tolak ukur dan pendorong penting bagi keputusan untuk meniti jalan pengajaran. Dia memilih jalan ini untuk berbakti kepada umat, mencetak generasi, dan mendidik tunas muda, menganggap mereka anak-anaknya, beginilah islam melirik makna dari pendidikan itu. Dia berpandangan bahwa usaha memperbaiki mereka adalah skala prioritas profesinya, dan mendidik mereka merupakan tanggung jawabnya. Dia menunaikan tugas-tugas pekerjaan dengan baik untuk bisa menikmati gajinya dengan halal. Walaupun demikian dia tetap akan memperoleh keistimewaan-keistimewaan materi sama dengan yang lain. Diapun bisa hidup tenang dan tentram.
            Padahal Rasulullah SAW telah bersabda, Ketika seseorang wafat dan berpindah untuk memetik amalnya, maka amalnya terputus. Kecuali tiga, “sedekah jariah atau ilmu yang bermanfaat atau anak yang shalih yang berdoa untuknya. Dan lebih takjubnya, bagian pahala seorang guru tidak hanya pada satu dari tiga diatas. Dia meraih semuanya, ya! ketiga-tiganya.
            Sesungguhnya para penguasa dunia, politikus besar, Orang tua yang mengajarkan sopan santun yang tinggi, tentara yang tetap sigap dalam menghadang musuh, da’i yang dikerumuni orang banyak. Tidak lain adalah hasil didikan sang pendidik yaitu guru. Mereka pasti melalui jenjang pendidikan panjang dan sulit. Para ustadz dan orang tua ikut juga berperan didalamnya, masing-masing guru memberi bekas pada salah satu sisi pemikiran mereka atau pada salah satu segi kepribadian mereka. Maka tak ayal bagi kita harus mengormati semua guru, walaupun ia guru Sekolah Dasar kita.
            Sesungguhnya para guru berkhidmat kepada seluruh manusia. Mereka meninggalkan bekas mereka disetiap lingkungan yang mereka terjuni. Sebagaimana pengaruh mereka terhadap kehidupan dan masa depan beberapa orang yang akan terus berlangsung bersama orang-orang tersebut bertahun-tahun, bahkan bisa selama hayat masih dikandung badan. Para guru itu berperan besar dalam mencetak kehidupan setiap orang yang pernah mengecap bangku sekolah. Para guru membentuk kepribadian para pemimpin masyarakat, para politikus, militer, pemikir dan para praktisi di bidang-bidang kehidupan yang lain.
            Menurut saya, engkaupun setuju bahwa gerbang pengaruh tidaklah terbuka bagi semua orang. Dan bahwasanya siapa yang gagal memberi pengaruh terhadap para siswa yang duduk di depannya, maka kata-katanya tidak akan melebihi ruang kelasnya.
            Alangkah tinggi derajat yang digapai oleh seorang guru, hingga Allah SWT bershalawat kepadanya, begitu juga malaikat-malaikat yang tidak pernah bermaksiat kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan, dan mereka mengerjakan apa yang diperintahkan kepada mereka. Begitu pula penduduk langit dan bumi. Ini adalah sesuatu yang diakui oleh semua orang. Apakah engkau tidak mendengar doa-doa tulus dari mulut orang-orang, ketika mereka menyimak seorang khatib atau da’i kepada kebaikan? Ia telah mengajarkan kepada mereka sesuatu yang tidak mereka ketahui atau mengingatkan mereka sesuatu yang mereka lupakan.
            Akan tetapi bagaimana menurutmu dengan orang yang menjadikan amanat kedudukan ini sebagai tangga menumpuk harta, sebagai sarana untuk mengeruk keuntungan materi. Dia tidak memiliki keikhlasan kepada Allah SWT. Dan dalam mengerjakan sesuatu kepada manusia dia tidak mencari ridha Allah. Menurutmu berhakkah dia memperoleh pahala ini?
            Guru adalah pemilik prosentase keutamaan-keutamaan terbesar. Dia termasuk penyeru kebaikan dan memulai sunnah yang baik. Bisa jadi ada sebuah kalimat yang engkau ucapkan, sementara engkau kurang begitu memperhatikan. Kalimat itu diterima oleh orang yang lebih paham tentangnya daripada dirimu, maka engkau pun memperoleh bagian pahalanya.
Share this Article on :

0 komentar:

Posting Komentar

 

© Copyright Aceh Mengajar 2012 -2013 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.